Sabtu, 14 Mei 2011

asal - usul besemah


Penjalang di Besemah Libagh, dan Puyang Riye Lasam menjadikan keturunan. Sumbay Ulu Lurah. Tentang asal-usul suku Besemah, versi lalin menceritakan bahwa ada seorang ?Wali Tua? dari salah satu anggota keluarga Kerajaan MajapahitSampai sekarang masih belum jelas dari mana sebenarnya asalusul suku Besemah. Apakah teori-teori tentang perpindahan penduduk yang diikuti sekarang berlaku juga bagi suku besemah, masih diliputi kabut rahasia.Selain cerita rakyat yang tetap hidup dan berkembang di Besemah, mengenai asal- usul suku Besemah, seorang pengelana bangsa Inggris, E.Presgrave, yang mengunjungi daerah Besemah, memberikan cerita dalam The Journal Of The IndianCerita tentang asal-usul suku Besemah sangat mistis, irasional, dan sukar dipercaya kebenarannya. Masalahnya bukan persoalan benar atau salah, dipercaya atau tidak, akan tetapi unsur yang sangat penting dalam mitos atau legenda adalahMenurut Kamil Mahruf, Nanang Soetadji, dan Djohan Hanafiah dalam bukunya Pasemah Sindang Merdika, asal usul orang Pasemah dimulai dengan kedatangan Atong Bungsu, yaitu nenek moyang orang Pasemah Lampik Empat dari Hindia Muka untukPuyang-puyang yang diyakini secara lokal seperti Puyang Atung Bungsu di Besemah, Puyang Ranggonang di Sekayu, Puyang Senuro di dusun Senuro, Puyang Dayang Rindu di Daerah Ogan, Puyang Kemiri di dusun Kunduran Ulu Musi, dan lain sebagainya. Tetapi ada juga puyang yang Puyang Kemiri: Pesan-pesan dan Asal-usul Empat Lawang · Rejung: Irama Sungai yang Menganyutkan · Seniman Kecewa, Tidak Ada Sriwijaya dalam “Glory of Sriwijaya” Sea Games · Besemah dan Mitos Atung Bungsu

pecahan subsuku Semende yang tersebar di wilayah ini. (masukkan peta bahasa Besemah dan bahasa besemah dialek semende di lampung) (Bagian dari buku karangan Yudi Herpansi dkk, 2007. Atung Bungsu, Sejarah Asal-usul Jagat Besemah)

Mengenai asal-usul suku Besemah, hingga saat ini masih diliputi kabut rahasia. Yang ada hanyalah cerita-cerita yang bersifat legenda atau mitos, yaitu mitos Atung Bungsu, yang merupakan salah satu di antara 7 orang anak ratu (= raja)

Minggu, 29 Agustus 2010

Dia Kekasih Allah



Malu rasanya mengatakan cinta kepada dia, kekasih Allah, karena dia insan utama sedangkan diriku insan biasa.
Ku pujuk juah hati dan jiwa, meluahkan rasa cinta membara, di dalam pujian ucapan sholawat, tanda penghargaan seorang umat.
Selagi upaya kuturuti ajarannya, apa terdaya kuamalkan sunnahnya, moga di dunia mendapat berkah, di akhirat sana peroleh syafa'at.
Karena pribadinya aku terpesona, karena budinya aku jatuh cinta, nantikanlah aku di taman syurga.
Sesungguhnya yang kudambakan adalah cinta Allah yang Esa, karena cinta kepada Rosulullah berarti cinta kepada Allah..
_hijjaz_
oleh Lailatul Qodariah pada 28 Agustus 2010 jam 16:22

Senin, 16 Agustus 2010

HADITS TENTANG ADZAN PADA TELINGA BAYI

Pada kesempatan kali ini, kita akan mencoba meluruskan pemahaman mengenai sebuah hadits yang amalannya sangat populer dikalangan masyarakat kita. Berikut arti dari Hadits Adzan di telinga kanan si bayi dan iqomah di telinga kirinya maka anak itu kelak tidak akan diganggu jin: “Barang siapa dianugrahi anak kemudian ia adzan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya maka anak itu kelak tidak akan diganggu jin”Hadits ini maudhu.Ibnu Sunni meriwayatkan dalam kitab Amalul Yaumi wal-lailati halaman 200, dan juga Ibnu Asakir II/182, dengan sanad dari Ibu Ya`la bin Ala ar-Razi, dari Marwan bin salim, dari talhah bin Ubaidillah al-Uqali, dari Husain bin Ali.Sanad Tersebut Maudhu` sebab Yahya bin Ala dan Marwan bin Salim deikenal sebagai pemalsu Hadits. Disamping itu, dalam periwayatan hadits diatas ada semacam unsur meremehkan atau mengagampangkan masalah. Hal itu diutarakan oleh al-Haitsami dalam kitab Majma az Zawa`id IV/59, Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan dalam sanadnya terdapat Marwan bin Sulaiman al-Ghifari, yang oleh muhadditsin riwayatnya ditinggalkan atau tidak diterima.Almanawi pensyarah kitab al-jami`ush shaghir berkata: Hadits ini dalam sanadnya terdapat Yahya bin Ali alBajali ar-Razi. Adz Dzahabi dalam kitab adh Dhuafa` wal-Matrukin berkata: “Ia pendusta dan pemalsu ” Itulah yang dinyatakan oleh Imam Ahmad.Menurut Muhammad Nashiruddin Al-Albani, kepalsuan diatas tidak banyak diketahui ulama. Buktinya banyak ulama kondang yang mengutarakan hadits diatas tanpa menyebutkan kemaudhu`an da kedha`fannya. Hal ini terutama dilakukan oleh ulama penulis atau pembuat kitab kitab wirid atau kitab kitan fadha`il. Misalnya, Imam Nawawi mengungkapkan hadits tersebut dengan perawi Ibnu Sunni. Namun tanpa memberi isyarat atau komentar kedha`ifan dan kemaudhu`an nya.Begitu pula dengan pensyaratan yakni Ibnu Ala. Ia pun tidak menyinggung tentang sanadnya sama sekali. Setelah itu datanglah ulama generasi berikutnya yakni Ibnu Taimiyah yang dapat dilihat dalam kitab al-Kalimuth Thayyib yang diikuti oleh muridnya Ibnu Qayyim yang diutarakan dalam kitab al Wabilush Shayyib. Namun keduanya menyinggung seraya berkata bahwa dalam sanadnya terdapat kedha`ifan.Setelah keduanya, datanglah generasi ulama berikutnya atau bahkan semasa dengan keduanya, tetapi tidak menginggung atau bahkan diam seribu basa dalam mengontari sanad hadits tersebut.Pada prinsipnya, sekalipun keduanya (Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim) telah terbebas dari aib mendiamkan hadits atau riwayat dha`if, namun tetap tidak bebas dari pengungkapan kedha`ifan suatu hadits. Maksudnya, apabila mengetahui kedha`ifan hadits tadi mengapa mereka masih mengutarakannya? Itu berarti hanya merupakan pernyataan kedha`ifan hadits tersebut dan bukannya menunjukan kemaudhu`an nya. Apabila tidak demikian maka sudah sepantasnya kedua imam yang agung itu tidak mengutarakan hadits tersebut diatas. Inilah yang pasti akan di pahami oleh orang orang yang meneliti dan mau menelaah kitab atau karya tulis kedua imam tadi.Yang membuat Muhammad Nasiruddin Al-Albani khawatir ialah para ulama generasi sesudah beliau menjadi terkecoh hingga dengan lantang berkata: “Tidak apa-apa karena hadits dha`if pun dapat dipakai untuk mengamalkan fadha`ilu-a`mal (amalan amalan yang mulia). Yang terjadi kemudian bahkan hadits itu dijadikan penguat hadits dha`if lainnya dengan meremehkan syarat mutlak yang harus ada yaitu hendaknya hadits tersebut tidak terlalu dha`if derajatnya. Sebagai bukti ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanad dha`if dari Abi Rafi` yang berkata: Aku telah melihat Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam mengumandangkan adzan pada telinga Hasan bil Ali ketika dilahirkan oleh Fatimah binti Muhammad.Imam Tirmidzi berkata Hadits ini shahih dan hendaknya di amalkan dengan dasar hadits tersebut. kemudian pensyarahnya yakni al-Mubar Kafuri setelah menjelaskan kedha`ifan sanad nya dengan dasar pernyataan para ulama, berkata: Apabila ditanya; bagaimana mungkin dapat diamalkan sedangkan hadits itu dha`if, maka jawabannya ialah: Memang benar hadits tersebut dha`if, akan tetapi menjadi kuat dengabn adanya riwayat lainnya yaitu hadits dari Husain bin Ali, yang di riwayatkan oleh Bau Ya`la al-Maushili dan Ibnu Suni”Coba kita perhatikan, Bagaimana mungkin hadits menjadi kuat atau dapat dikuatkan dengan adanya hadits maudhu? Dari mana datangnya kaidah tersebut? Sungguh yang demikian itu tidak ada kamusnya dalam sejarah para muhadditsin pada masa lalu hingga hari Qiyamat nanti. Menurut Muhammad Nasiruddin Al-Albani, yang demikian ini dapat terjadi tidak lain karena tidak mengenal kemaudhu`an hadits Husain bin Ali diatas dan juga karena terkecoh oleh komentar atas termuatnya riwayat tersebut dalam karya tulis ulama terkenal atau ulama yang dianggap menjadi panutan.Memang benar untuk menguatkan hadits Abi rafi yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi itu adalah: adanya riwayat atau hadits atau hadits Ibnu Abbas yaitu: “Sesungguhnya Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam telah mengumandangkan adzan pada telinga Hasan bin Ali ketika lahir dan mengumandangkan iqamah pada telinga kirinya. (Hadits tersebut telah dikeluarkan oleh Baihaqi dalam kitab Syi`b Iman berbarengan dengan hadits Hasan bin Ali)Kemudian Baihaqi berkata: “Kedua hadits tersebut dalam sanadnya terdapat kedha`ifan”. Pernyataan baihaqi tersebut telah diutarakan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab at-Tuhfah halaman 16.Namun tampaknya sanad hadits ini lebih baik ketimbang sanad hadits Hasan bin ali yang dapat dijadikan kesaksian atau penguat bagi hadits Rafi tadi. Bila demikian masalahnya, maka riwayat inilah sebagai penguat adanya adzan pada telinga sang bayi saat dilahirkan seperti tercantum dalam hadits Rafi riwayat Imam Tirmidzi tadi. Adapun mengenai mengumandangkan iqomah pada telinga kiri adalah riwayat gharib (asing).Namun kita kembali lagi pada pernyataan Imam Baihaqi bahwa “Kedua hadits tersebut dalam sanadnya terdapat kedha`ifan”. Dan Bagaimana mungkin hadits menjadi kuat atau dapat dikuatkan dengan adanya hadits maudhu? yang menurut Muhammad Nasiruddin Al-Albani, yang demikian ini dapat terjadi tidak lain karena tidak mengenal kemaudhu`an hadits tersebut dan juga karena terkecoh oleh komentar atas termuatnya riwayat tersebut dalam karya tulis ulama terkenal atau ulama yang dianggap menjadi panutan. Wallahu a`lam bish showab
(Sumber Rujukan: Silsillah hadits2 dhoif dan maudhu, Hadits NO 321, Asy-Syaikh Nasiruddin Al Albani)

Keajaiban Sederhana

Hidup itu anugrah…
Di waktu pagi ketika kita buka mata,
kita membuka hadiah yang telah dipersiapkan oleh Sang Pencipta untuk kita di setiap hari.
Hari yang baru,
nafas yang baru,
matahari yang masih bersinar,
orang-orang terkasih yang masih bersama kita,
dan keajaiban sehari-hari yang lainnya..
Pada hari Rabu 21 Juli 2010 yang lalu, hadiah untuk ku dari-NYA adalah kepercayaan untuk umur yang baru. Sebuah hadiah yang sangat besar dan berharga… penuh petualangan dan tanggung jawab baru.
Tetapi aku percaya perjalanan ku kedepan akan penuh dengan keajaiban, karena aku tau DIA; Kekasih jiwaku, Sahabat Sejati ku, Tuhan ku yang penuh kasih setia, senantiasa berjalan bersama-sama dengan ku.

Ada yang berubah dan ada yang tidak pernah berubah…
Aku merenungkan hal tersebut pada hari Rabu di bulan Juli yang lalu ketika aku menjalani hari pertama di usia ku yang baru.
Tradisi dirumah ku adalah kue dan nyanyian bagi yang berulangtahun dipagi hari [ tidak pernah berubah sampai saat ini ]
Ulang tahun ku ketika duduk di bangku SMA:
Aku mendapat beberapa kejutan dari sahabat-sahabat dan teman bermain ku. Kehadiran mereka didepan mata ku, tangan-tangan mereka yang memeluk dengan sungguh-sungguh meskipun berlumuran kue, telur mentah, tepung dan air comberan ( hehe..) sangat menyentuh hati ku.
Ulang tahun ku pada Rabu 21 Juli yang lalu bersama teman-teman SMA yang kini sudah nggak SMA lagi:
Kami menghabiskan waktu dengan jalan jalan bersama, bercanda seperti dulu dan berakhir makan di supermarket sambil reuni. Lalu aku dikejutkan oleh kue muffin blueberry mini dan sebuah korek api dari teman-teman untuk adegan tiup lilin bagi ku.
Yang berubah adalah teman putih abu-abu ku sekarang sudah semakin dewasa, sudah punya pekerjaan masing-masing ( “kantoran” hehe bukan “sekolahan” lagi).
Dan yang tidak berubah adalah ‘kehadiran’ mereka.
Aku mendapatkan banyak ucapan dan harapan di setiap hari ulang tahun ku.. Aku sangat bersyukur untuk itu..
Mmm..
Yang berubah adalah biasanya SMS di HP ku yang akan bunyi seharian di hari aku berulang tahun, Inbox HP ku akan penuh dengan ucapan dan harapan dari orang-orang terdekat yang namanya ada di phonebook HP ku. -itu dulu-.
Kini, yang penuh adalah twitter dan facebook ku. Banyak ‘mention’ selamat ulang tahun dan ‘wall’ selamat ulang tahun untuk ku, ratusan atau mungkin juga hampir mencapai ribuan (mungkin). Beberapa dari orang yang aku kenal, beberapa dari orang yang tidak ku kenal. Ada yang benar-benar dekat, ada juga yang seolah-olah dekat. Karena sejauh apapun, ketulusan bisa dirasakan dan pasti terasa di hati.

Mungkin, kecanggihan teknologi membuat SMS jadi ketinggalan jaman hehe.. atau memang sekarang jadi lebih murah dengan semakin banyaknya teknologi yang memfasilitasi kita untuk ngobrol. Benda-benda ajaib dan canggih dan mutakhir membuat segalanya jadi serba cepat, serba praktis, serba mudah, serba bisa dicapai. Kita bisa ngobrol dengan seluruh dunia, siapa pun yang tempatnya ada di ujung dunia sekali pun (asal sinyalnya kuat hehe).
” Kemudahan-kemudahan tersebut (teknologi) mempercepat kebutuhan kita dalam membuat keputusan-keputusan.” (aku mendengar kalimat itu diseminar kampus ku ;p).
Yaa… sangat membantu bagi pekerjaan dan segudang aktifitas kita.
Tapi, kenapa terasa seperti ada yang hilang ya….

Tapi kembali lagi, diantara semua yang berubah, ada yang tidak berubah.
Sahabat ku sejak SMP… Dorothy. Tanpa mempertimbangkan SMS, atau kemudahan lainnya. Mendatangi aku yang masih tertidur di balik selimut hari Rabu bulan Juli 2010 yang lalu, sebelum ia pergi ke kantor. Membawakan aku kue ( kali ini apple strudel-apfelstrudel) dan pernak-pernik lainnya sebagai hadiah ( khas dia sekali). Dan tidak lupa membawa buku curhat kami untuk ditukar dengan yang ada di aku. Seperti tahun-tahun yang lalu.
Tulus bukan tentang kue atau hadiah. Tapi tulus tentang bisikan doa dan harapan di telinga, tangannya yang terulur untuk memeluk, dan keberadaannya didepan mata ku.

Ketulusan yang dipancarkan sahabat-sahabatku dan orang-orang terkasih dalam hidup ku merupakan keajaiban sederhana yang menyentuh hati. Membuatku kembali bercermin, agar aku dapat menata diri ku lebih baik lagi, agar aku lebih banyak bersyukur dan belajar dari ketulusan-ketulusan yang aku terima. Agar aku membawa dampak yang baik bagi orang lain, agar aku membawa cahaya seperti mereka yang menerangi hidup ku. Salt & Light.

Ada yang berubah dan ada yang tidak pernah berubah
Ada yang datang untuk menetap, ada yang pergi untuk meninggalkan
Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa
Pasti akan dan pernah kita lewati
Namun yang akan tetap selamanya dan tidak akan pernah berubah hanya satu, Tuhan Yesus ; kuasa Nya yang tak terbatas, kasih setia-Nya kepada kita.

Kiranya tulisan ini dapat membawa keajaiban sederhana bagi teman-teman yang membacanya.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankan. Mohon maaf lahir&batin.

Minggu, 15 Agustus 2010

JANGAN MENUNGGU HARI PERHITUNGAN, karena hari itu SUDAH SAMPAI.


Semua sikap, pikiran, dan tindakan kita SUDAH DIPERHITUNGKAN, dan sudah digunakan untuk menetapkan kualitas hidup kita.

Perhatikanlah kualitas hidup kita DETIK ini.
...
Yang malas dan hanya menunggu diberi, menjadi pribadi yang mengeluh dan marah.

Yang jujur dan bekerja keras, menjadi pribadi yang damai dan tercukupi.

Ikhlaslah.

Jumat, 13 Agustus 2010

Ramadan dalam Bingkai TV

AMADAN merupakan bulan penyucian diri umat muslim dari segala dosa yang pernah diperbuat dalam kehidupannya. Karena itu, perlu ada dukungan lingkungan sosial yang kondusif agar tercipta sebuah kekhusyukan ibadah puasa. Penutupan tempat-tempat hiburan malam seperti kafe, spa, dan lokalisasi merupakan tindakan untuk menciptakan lingkungan sosial yang kondusif.

Namun, lebih dari itu, perlu juga diwaspadai penyebaran pesan media massa televisi, radio, surat kabar, dan majalah. Media massa, terutama televisi, mempunyai kontribusi besar dalam menciptakan lingkungan sosial yang buruk, terutama penyebaran gosip, mistis, pornografi, serta kekerasan di setiap rumah tangga.

Ramadan merupakan sarana media TV untuk mengeruk iklan sebesar-besarnya. Semua media TV berlomba memproduksi program siaran semenarik mungkin dengan tujuan membatu menghibur khalayak dalam menjalankan ibadah puasa. Namun, hal itu perlu diwaspadai karena tidak semua televisi memberikan program berkualitas pada bulan puasa.

Perubahan Konfigurasi

Dalam menyongsong Ramadan ini, media televisi telah merombak mata acara dan jam siaran dengan harapan bisa mengeruk pemirsa sebanyak-banyaknya. Beberapa pola perombakan yang dilakukan media televisi, antara lain, (1) mengubah konfigurasi acara. Perubahan tersebut dilakukan dengan memunculkan acara-acara baru, menghilangkan beberapa acara seperti infotainment saat siang.

Juga, ada penghalusan program acara. Jika pada hari biasa artis menggunakan busana pendek dan goyangannya vulgar, pada Ramadan ini diperhalus dengan artis berbusana muslim dan bergoyang santun. Upaya tersebut merupakan strategi televisi untuk tetap eksis mengeruk iklan sebesarnya-besarnya tapi tetap menghormati bulan puasa.

(2) Mengubah jenis produk yang diiklankan. Produk-produk yang berkaitan dengan nuansa Lebaran dan puasa lebih banyak diiklankan daripada produk sehari-hari. Tampilan-tampilan iklan akan disesuaikan dengan konteks Ramadan seperti artis iklan berbusana muslim.

(3) Perubahan performance televisi. Artis-artis atau presenter yang semula berbusana tanpa memperhitungkan aurat beramai-ramai menggunakan busana muslim ketika membawakan mata acara tertentu, meski acara itu tidak bersentuhan langsung dengan konteks Ramadan.

Pelanggaran Televisi

Penayangan program-program Ramadan di televisi tidak hanya mengundang apresiasi pemirsa, tapi juga mengundang kritik. Misalnya, program-program acara televisi pada masa Ramadan sebatas upaya mengejar ''rating'' semata. Program Ramadan cenderung miskin kreativitas dalam mengemas program Ramadan serta tidak ada konsistensi makna dan filosofi Ramadan yang direpresentasikan dalam teks maupun visualnya.

Berdasar hasil pemantauan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur 2009, program-program televisi yang ditayangkan menjelang buka puasa maupun sahur lebih didominasi hiburan daripada edukasi religius. Nilai entertainment tecermin mulai format programnya, pemilihan aktor/aktris, setting panggung, sampai formulasi teks dan visualisasinya.

Jika ada unsur religiusnya, itu pun tetap saja dikemas sebagai formula hiburan yang penuh canda tawa. Akibatnya, dalam membawakan acara, presenter masih berperilaku tidak santun, termasuk dalam menata kata yang cenderung kasar dan vulgar.

Gosip yang dikemas dalam acara infotainment juga masih mendominasi pada Ramadan dan tetap disiarkan saat siang. Infotainment sebagai warta hiburan mengandung perdebatan antara fakta dan sebuah isu. Hal tersebut dapat mengakibatkan disinformation atau missinformation khalayak dan akhirnya bisa menghilangkan esensi makna Ramadan di tengah khalayak.

Wacana Puasa

Kegagalan media televisi menstranfer pesan agama secara serius dalam program yang berkualitas dan sesuai konteks Ramadan disebabkan beberapa hal. Di antaranya, (1) media televisi lebih memilih mencari revenue (keuntungan) sebesar-besarnya daripada memberikan acara yang berkualitas dan dapat menambah pahala dalam bulan puasa. Media televisi seharusnya membuat program seperti sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) di SCTV. Program itu sukses mencari revenue dan sukses memberikan nilai-nilai religiusitas.

(2) Kurang tegasnya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam memberikan sanksi terhadap media penyiaran televisi yang melanggar standar program siaran (SPS) dan pedoman perilaku penyiaran (PPP). (3) Lemahnya peran dai dalam menjalankan peran penjaga gawang (gatekeeper) yang senantiasa mengingatkan bagaimana hendaknya agama diwacanakan dalam media televisi.

Menurut riset Santi Indra Astuti (2005), subtansi ibadah puasa di media televisi sering diwacanakan sebagai sebuah ritual yang menahan lapar dan haus. Menahan hawa nafsu diwujudkan dengan berbusana menutup aurat. Tapi, ketika Ramadan berlalu, busana muslim ditanggalkan dan para bintang kembali malang-melintang di layar kaca dengan busana yang biasa mereka kenakan.

Dalam upaya membatasi program acara media televisi yang bisa mengurangi esensi makna Ramadan, dibutuhkan pemantauan intensif oleh regulator (KPI) dan ketegasan dalam memberikan sanksi pelanggaran dalam bulan Ramadan. Selain itu, diperlukan masukan-masukan yang kondusif dari para ulama dalam memformulasikan program siaran saat Ramadan.

Yang terakkhir, diperlukan keihklasan pemilik media televisi untuk tidak mengejar revenue semata, tapi juga ikut memikirkan program televisi yang bisa menambah nilai-nilai Ramadan bagi khalayak. (*)

Heboh Malaikat Turun ke Ka'bah Ada di Youtube

JPNN - Padang Today

">klik untuk melihat foto
Foto: Youtube.com. []

Situs Youtube benar-benar menjadi sarana untuk menampilkan gambar atau video bagi siapa saja. Yang terbaru, sebuah gambar penampang (seluit) cahaya putih yang muncul di atas Ka'bah, Masjidil Haram, Makkah muncul di situs videoshare nomor wahid itu.

Video yang diunggah dengan nama akun richilayla sebenarnya muncul sejak tahun 2008. Richilayla sendiri disebut-sebut berusia 27 tahun dan berdomisili di Australia. Pada gambar tertulis tanggal 10/11/2008 pukul 08.51.

Gambar ini menjadi topik pembicaraan di situs jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter. Hanya saja, gambar malaikat turun ke Ka'bah ini belum diketahui keasliannya.

Diduga hanya efek dari cahaya kamera terhadap pencahayaan yang ada di Masjidil Haram tersebut. Gambar ini memang dikunjungi banyak orang. Setidaknya, pada Kamis (05/08/2010) sore sudah tercatat 443.446 kunjungan yang melihat gambar tersebut.(fuz/jpnn)